Renungan di malam kelabu

 Sinar rembulan bergerak meninggalkan bumi

Siut-siut angin, berbisik kepadaku

Apa itu? Apa itu? Apa itu ?

Ku terdiam,……

Ku terpaku,…….

Bibir ini bergetar,……

Bibir ini pucat, hanya butiran-butiran embun yang jatuh membasahi pipi

Di malam yang sunyi, Sepi menyelimuti hati

Renungan di malam yang dingin

Renungan di sudut malam yang paling kelam dan mencekam

Ku hanya diam,..terpaku memandangi hitamnya langit.

Kelam mencekam menutup jiwa yang kosong

Terkoyak bathin dalam renungan di malam kelabu

Menepis lara yang membara di jiwa yang sunyi.

Oleh : SUCI APRIANI NINGSIH

Seperti Itukah Cinta?

Kau bagaikan cahaya rembulan

Kehadiranmu terangi kembali

Harapan yang telah lama padam

Coretan-coretan di hati ini

Kau hapus dan kau ganti

Kau hadirkan semerbak bunga mawar

Kau hiasi hari-hariku

Bak pelangi yang muncul setelah hujan reda

Begitulah dirimu

 

Kini warna pelangi itu tak kelihatan lagi

Berangsur kabur dan bahkan lenyap

Serpihan rindu ini tak terhitung

Aku terbelenggu di ruang hampa

Butir-butir mutiara seringkali menghiasi pipiku

Terselip haru saat mengingat indahnya pelangi waktu itu

Masih terpampang jelas di memori hati

Lembut sutera yang mustahil akan terganti

Namun tak lagi dapat kusentuh, hangat tubuhmu

Seperti itukah cinta?

Oleh: Lusi Vizolla

OMBAK TERAKHIR

Malam itu hujan turun dengan derasnya. Aku hanya bisa menikmati di balik tembok kamarku saja. Tubuh ini serasa disengat oleh dinginnya malam. Hujan yang turun seolah-olah bersahabat dengan hatiku yang pilu. Akupun tak kuasa menahan air mata yang jatuh.

Kesedihanku makin terasa menyiksa. Di tengah pekatnya malam aku hanya bisa terdiam di sudut kamarku. Esok adalah saatnya. Saat aku harus melepas kekasihku pergi untuk waktu yang cukup lama.

Aku tak pernah mengharapkan adanya perpisahan ini, tetapi ada sesuatu hal yang membuat kami harus berpisah. Langit yang tadinya gelappun mulai memancarkan sebersit cahaya yang menandakan bahwa mentari mulai muncul di ufuk timur. Akupun tersentak mengingat waktu yang tak banyak lagi. Aku lantas bergegas dan bersiap-siap untuk mengantarkan kekasihku ke pelabuhan.

Setibanya di pelabuhan  kami hanya bisa terdiam dan saling memandang. Kulihat jam di tangan, ternyata kami masih mempunyai waktu untuk bersama sebelum keberangkatan. Sorot matanya terlihat bahwa ia sedang menyimpan luka.

Keheningan itupun terpecah oleh suara mesranya.

“aku pergi tidak akan lama”, katanya.

“bagaimana mungkin kau pergi tak akan lama, negeri orang itupun jauh entah di mana”, jawabku.

“iya aku tau, tetapi aku pasti pulang untuk keluargaku dan juga untuk kau kekasihku, aku hanya ingin membahagiakan ibu dan memiliki masa depan yang cerah bersama denganmu nanti”.

Waktu terus berjalan, lagi-lagi berada dalam keheningan.

“maafkan aku yang tak pernah rela untuk berpisah jauh darimu, aku hanya ingin selalu ada di sampingmu”, kataku.

“keputusan ini memang sulit bagiku, tetapi aku harus melakukannya sayang”, jawabnya.

Air mata ini sulit sekali untuk ku tahan. Aku hanya bisa menatap kososng deburan-deburan ombak yang akan membawa kekasihku pergi ke negeri orang.

“aku hanya takut kau tidak ingat denganku lagi”.

“aku tidak akan meninggalkan gadis yang berarti dalam hidupku, aku hanya ingin kau bersabar dan menanti, aku janji hati ini hanya untukmu”.

Akupun tersenyum mendengar kata-katanya, meskipun hatiku terus berkata-kata apakah di sana nanti ia akan ingat dengan janji-janjinya.

Tut..tut…bunyi kapal yang menandakan bahwa kapal akan segera berangkat.

Inilah saatnya…

Kapalpun berangkat dan hilang di tengah deburan ombak. Akupun berlari pulang untuk melepaskan semua kepedihan ini.

Dua tahun menanti aku hanya bertemankan ombak. Berharap ombak akan membawa kekasihku pulang. Aku selalu menanti di tempat yang sama aku melepasnya pergi.

Rasa rindu ini selalu memaksaku untuk segera bertemu dengannya. Akan tetapi rasa keraguanku seakan menenggelamkan rasa rindu ini. Aku takut apakah dia masih ingat denganku? Atau bagaimana keadaannya di sana? Apakah dia baik-baik saja? Entahlah hanya waktu yang bisa menjawab.

Sembari menantinya sudah banyak deburan ombak yang ku hitung. Kesabaranku seakan-akan diuji.

Sampai pada akhirnya akupun telah putus asa untuk menanti.

“aku akan menanti sampai deburan ombak yang terakhir ini, jika kau tak pulang juga mungkin aku tidak akan menantimu lagi”.

***

Oleh: Novi Tri Wahyuni

Powered by WordPress | Designed by: WordPress Themes | Thanks to best wordpress themes, Find WordPress Themes and Themes Directory