UPI CONVENTION CENTER Kembali Mewisuda Lulusan S1, S2, dan D3

Padang, Perguruan Tinggi UPI Swasta terbesar di Padang mewisuda jurusan Strata 1 (S.1) Informatika, Manajemen Strata 1 (S.1) dan Strata 2 (S.2), dan Teknik Diploma 3 (D.3). Dari berbagai bidang program studi Strata-1 Sistem Informasi tamatan wisuda yang ke-46, Strata-1 Sistem Komputer, Strata-1 Teknik Informatika, Strata-1 Management Akutansi, Strata-1 Management Perusahaan, Diploma-3 Akutansi, Diploma-3 Teknik Sipil, Diploma-3 Teknik Arsitektur, Diploma-3 Teknik Industri, Diploma-3 Teknik Elktro, Diploma-3 Teknik Psikologis dan Strata-2 Magester Management. Pada Angkatan Tahun 2013-2014 ini wisuda dilaksanakan  pada Sabtu-Minggu (11-12/04) di gedung Aula UPI CONVENTION CENTER. Perguruan Tinggi UPI Padang mewisuda 500 mahasiswa pada hari minggu dari jurusan Sistem Informasi dengan Indeks Prestasi Kumulatif yang tertinggi 3,97 dan Magester Management Indeks Prestasi Kumulatif 3,73.
Ketua yayasan UPI Herman Nawas (12/14) mengatakan, “Daya saing suatu bangsa tidak lagi ditentukan oleh kekayaan alam yang dimiliki suatu bangsa tersebut, namun lebih ditentukan oleh kualitas manusia yang dihasilkan bangsa tersebut yang menguasai ilmu pengetahuan dan sistem informasi teknologi demi menaikan derajat suatu bangsa serta orang-orang yang mampu bersaing di dunia kerja. Untuk itu demi menciptakan manusia yang berkualitas di dunia kerja kami menciptakan proses pendidikan yang berkualitas dengan menghasilkan pendidikan yang berkarakter pada setiap mahasiswa yang mampu, siap terjun dan bersaing di lapangan”. Dari pernyataan tersebut dapatlah kita ketahui dunia kerja sekarang yang dibutuhkan adalah skill dan kesiapan diri untuk bersaing di dunia kerja.
Irfan, S. Kom. salah satu wisudawan jurusan Sistem Informasi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,78 yang telah siap terjun kelapangan dan mampu bersaing di dunia kerja. Dengan modal IPK yang memuaskan dan memiliki modal keahlian yang dibutuhkan di dunia kerja. Ia mengatakan “hanya butuh waktu selama 4 tahun menyelesaikan Studinya di UPI karena memang jurusan yang saya pilih ini merupakan keahlian saya dan saya juga mencintai pilihan yang saya pilih demi masa depan nantinya. Karena sesuatu hal yang kita lakukan berawal dari keahlian dan hobi akan mudah menjalaninya. Buktinya saya tamat tepat waktu dengan IPK memuaskan”. (Annisa Luvia)

Cara Belajar Baru Mahasiswa STKIP PGRI SUMBAR

Padang- STKIP PGRI SUMBAR merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di Padang yang akan melahirkan calon-calon guru masa depan yang berkualitas. Calon-calon guru yang akan membentuk generasi bangsa yang berpendidikan dan memiliki karakter yang mampu memajukan bangsa nantinya. Calon-calon guru yang berdedikasi tinggi dan akan melahirkan anak-anak didik yang pintar dan berkualitas di dunia kerja nantinya.

Kampus STKIP PGRI SUMBAR memiliki ruangan belajar yang kondusif dan nyaman. Namun, walaupun memiliki ruangan yang nyaman untuk belajar lama-kelamaan akan menimbulkan kejenuhan. Untuk mengatasi hal tersebut, Teuku Afifudin dosen mata kuliah pratek jurnalistik memiliki cara tersendiri untuk menghilangkan kejenuhan belajar di dalam kelas. Cara yang dilakukan yaitu belajar di halaman depan kampus utama STKIP PGRI SUMBAR pada hari minggu (12/04) dari pukul 09:00 WIB sampai selesai. Cara ini merupakan salah satu cara jitu menghilangkan kebosanan belajar di dalam ruangan. Walaupun ada beberapa mahasiswa yang keberatan, karena memakai hari libur untuk kuliah. Namun hal tersebut tidak menjadi halangan untuk proses belajar.

Teuku Afifudin dosen pembimbing mata kuliah Praktek Jurnalistik mengatakan “Dengan mengambil waktu libur untuk kuliah terkadang memang sulit tapi cukup nyaman untuk belajar di luar ruangan karena kondisi kampus yang sepi. Dengan demikian, lapangan yang ada dapat digunakan mahasiswa untuk belajar dengan nyaman tanpa diganggu dengan suara bising mahasiswa lainnya. Cara belajar seperti ini memang cukup untuk menghilangkan kejenuhan belajar di dalam ruangan dan cara belajar baru juga dikalangan mahasiswa STKIP PGRI SUMBAR”.
Mata kuliah praktek jurnalistik diikuti oleh mahasiswa STKIP PGRI SUMBAR Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2011 sesi G, H dan E. Menurut salah satu mahasiswa STKIP PGRI SUMBAR Hariani Septiani Putri mengatakan bahwa “Belajar di luar kampus terkadang memang menarik dan sedikit banyaknya menyegarkan otak. Tetapi kelemahan dari kuliah di lapangan ini adalah dosen yang mengajar tidak terlalu terfokus dengan materi dan kami dari para mahasiswa hanya saling ngobrol dan tidak terlalu memperhatikan dosen”. (Mimi Martalinda)

TINGKATKAN KEAGAMAAN LEWAT BAZNAS

Minggu, (13,04,2014) pada zaman modern ini, pengaruh budaya luar makin di minati oleh para remaja. Untuk mengatasi agar perilaku remaja tidak terpengaruh oleh budaya luar maka perlu kegiatan keagamaan. Salah satunya yang di laksanakan oleh Baznas (badan amil zakat nasional) kota Padang. Kegiatan ini berperan penting pada perkembangan kejiwaan dan pemikiran remaja agar lebih religius. Dengan melibatkan Mahasiswa dari berbagai Universitas yang berjumlah lebih dari enam ratus kepala. Jumlah yang tidak sedikit  dalam mendidik mereka menjadi sosok yang mengerti, memahami dan mengembangkan makna dari agamanya. Menurut Taher (27) sebagai pengurus kemahasiswaan Baznas mengatakan “kami berharap dengan adanya mahasiswa-mahasiswa binaan Baznas ini, di lapangan akan menjadikan kota padang sebagai kota yang religius, karena merekalah yang akan mengajak masyarakat kota Padang beramai-ramai menginjakkan kaki di Mesjid.”

Baznas hadir dengan program-program baru setiap semesternya, Hal ini bertujuan agar mahasiswa binaan mereka tidak jenuh dengan satu program saja. Baznas memberikan inovasi-inovasi baru dalam beribadah. Pada awalnya Baznas mengadakan pertemuan antara mahasiswa binaan setiap minggunya yang dilaksanakan di masjid Annur sungai sapih padang. Namun kegiatan ini sempat terhentikan selama beberapa bulan. Lalu, hadir kembali dengan program program baru yaitu mahasiswa binaannya diwajibkan mengikuti kuliah tambahan setiap minggunya di Staipiq Padang.
Kegiatan yang mereka lakukan di antaranya mempelajari ilmu tajwid,  irama, hafalan surat, dan menerjemahkan bahasa Arab kedalam bahasa Indonesia. Para mahasiswa binaan merasa beruntung terlibat dalam program Baznas ini, karena bisa mempelajari ilmu al-Quran dengan gratis tanpa di pungut biaya. “malahan, kami diberi ongkos setiap kehadiran kami dan kami juga di hidangkan makanan ringan di setiap jam istirahatnya”. Ujar Intan mahasiswa binaan Baznas yang berasal dari STKIP PGRI Sumbar. Mahasiswa binaan Baznas mengadakan kegiatan di tempat yang berbeda-beda. Hal ini di lakukan agar tidak ada kejenuhan dari Mahasiswa binaannya, dan sekarang mereka melakukan kegiatan ini di Mesjid Al-Bahri Parak Jigarang.

Baznas memberikan suatu program untuk anak-anak binaannya, yaitu mengasuh sepuluh orang anak asuh yang berusia sekolah untuk di didik secara religius dan jika berprestasi dibebaskan biaya pendidikan. Baznas yang bergerak di bidang keagamaan ini bertujuan untuk membentuk manusia-manusia yang berkepribadian religius. Semua hal yang di lakukan Baznas kepada mahasiswa semata-mata untuk meningkatkan kereligiusan para remaja kota padang, yang mulai menggeser adat istiadat karena pengaruh barat yang tidak pantas ditiru oleh orang timur. Sekarang Baznas memvasilitasi mahasiswa binaannya dengan mendatangkan ustadz-ustadz yang berkompeten di bidangnya. Diantaranya adalah para professor IAIN IMAM BONJOL padang. Diharapkan dengan kegiatan yang di lakukan baznas ini bisa selalu mendampingi Mahasiswa dan masyarakat dalam hal beribadah. (Septia Dania Eka Putri)

Kesadaran Diri Sebagai Modal Sosial

Painan,Emadink_Seorang janda miskin bernama Darana (50 thn) yang bertempat tinggal di Kecamatan IV Jurai Nagari Ampangtareh Lumpo Kabupaten Pesisir Selatan. Darana memiliki 1 orang anak yang pergi merantau ke Batam dan sudah lama tidak pulang. Di rantau anaknya tidak memiliki pekerjaan yang layak. sehingga, tidak bisa membantu orang tuanya dikampung. Darana tinggal dirumah yang kecil berdinding papan yang sudah tidak layak dihuni dan masih berlantaikan tanah hitam. Sedangkan, Tempat bajunya hanya terletak diatas kayu tiga potong dan dia tidur hanya beralaskan tikar yang terbuat dari pandan, dan memasak dengan menggunakan tungku kayu.  Darana yang tidak berpendidikan dan tidak memiliki pekerjaan yang tetap untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Darana bekerja dengan membantu tetangganya untuk membelikan peralatan rumah tangga dan upah yang diterima dari hasil kerjanya antara 2000 sampai 5000 rupiah.

Namun, saat anggota dinas pertanian pergi berkunjung ke desa Ampangtareh Lumpo tiba-tiba hari hujan dan mereka berhenti di depan rumah Darana. Mereka melihat kondisi rumah Darana yang tidak layak. Sehingga, mereka berniat ingin membantu janda miskin itu. Mereka mendaftarkan Darana ke Badan Amal Zakat Pesisir Selatan dan Darana memperoleh bantuan sebesar Rp. 15.000.000 ( lima belas juta rupiah). Senin (14/4) Masyarakat bermusyawarah untuk membantu Darana. sehingga, Masyarakat berinisiatif untuk melakukan gotong-royong membangun rumah Darana. Sedangkan, uang yang lima belas juta tersebut hanya digunakan membeli bahan untuk membangun dan tenaga pekerjanya berasal dari tenaga masyarakat Ampangtareh Lumpo yang sukarelawan untuk membantu dan para aparat yang tinggal disekitar rumah Darana. Selain itu, makan dan minum para pekerja disediakan oleh ibu-ibu warga desa Ampangtareh Lumpo yang iyuran dan masak bersama untuk makan orang yang bergotong-royong membangun rumah Darana. (Suci Apriani Ningsih)

BELAJAR MENGAJI UNTUK TINGKATKAN KEAGAMAAN PADA ANAK-ANAK

DSC_0000030Senin, (14,04,2014) dengan di ajarkan mengaji sejak dini pada anak-anak di harapkan dapat meningkatkan rasa keimanan pada anak-anak zaman sekarang. Seperti yang di lakukan MDA Al –Jabannur yang terletak di Lapai. Di MDA ini masih melaksanakan kegiatan yang bersifat keagamaan. Di sini di ajarkan bagaimaana belajar mengaji dengan irama (tartil). MDA Al- Jabannur memiliki 15 peserta didik diantaranya, 10 orang laki – laki dan 5 orang perempuan. MDA Al-Jabannur ini juga memiliki 3 orang guru untuk mengajar mengaji dengan irama.

Kegiatan ini di laksanakan sekali seminggu tepatnya pada hari senin malam sekitar jam 19.00. Awal kegiatan ini pada tanggal 10 maret 2013. Sudah 1 tahun kegiatan ini berlangsung namun jumlah muridnya masih sedikit. hal ini membuktikan bahwa kurangnya rasa keagamaan pada anak-anak. Walaupun jumlah peserta didiknya sedikit mereka tetap senang belajar mengaji irama ini seperti yang diungkapkan seorang anak yang bernama pina (7) “senang sebab mengaji pakai irama kayak menyanyi”.

Hj Sopia  sebagai ketua MDA Al-Jabannur mengungkapkan “bahwa belajar tartil itu memang harus dilatih mulai dari kecil tanpa dilatih anak-anak tidak akan mampu membaca al-Quran dengan baik”. Memang sekarang kegiatan seperti belajar mengaji dengan irama tartil sudah punah, dimana MDA Al – Jabannur ini hanya memiliki 15 peserta didik saja, mana mungkin anak di daerah lapai ini hanya ada 15 anak saja masih banyak anak-anak yang tidak mau mengikuti belajar mengaji. Di sini terlihat bahwa kurangnya minat anak- anak untuk belajar mengenai keagamaan khususnya belajar mengaji. Padahal di daerah kompleks tersebut hanya satu tempat belajar mengaji dengan irama. Di harapkan orang tua juga berperan aktif dalam membimbing anak-anaknya di bidang agama jangan hanya mementingkan ilmu pengetahuan agama juga penting untuk akhirat kelak. Belajar mengaji tidak ada ruginya, karena anak-anak sekarang  tidak pandai mengaji dengan baik, tidak hanya ilmu tajwid di perhatikan irama juga sama pentingnya. Agar membaca al-Quran dapat  lebih baik. Untuk itu orang tua dan anak-anak harus bekerja sama dalam meningkatkan rasa keimanan kita terhadap tuhan dan rasa peduli kita terhadap agama yang dianut. (Septia Dania Eka Putri)

Powered by WordPress | Designed by: WordPress Themes | Thanks to best wordpress themes, Find WordPress Themes and Themes Directory