OMBAK TERAKHIR

Malam itu hujan turun dengan derasnya. Aku hanya bisa menikmati di balik tembok kamarku saja. Tubuh ini serasa disengat oleh dinginnya malam. Hujan yang turun seolah-olah bersahabat dengan hatiku yang pilu. Akupun tak kuasa menahan air mata yang jatuh.

Kesedihanku makin terasa menyiksa. Di tengah pekatnya malam aku hanya bisa terdiam di sudut kamarku. Esok adalah saatnya. Saat aku harus melepas kekasihku pergi untuk waktu yang cukup lama.

Aku tak pernah mengharapkan adanya perpisahan ini, tetapi ada sesuatu hal yang membuat kami harus berpisah. Langit yang tadinya gelappun mulai memancarkan sebersit cahaya yang menandakan bahwa mentari mulai muncul di ufuk timur. Akupun tersentak mengingat waktu yang tak banyak lagi. Aku lantas bergegas dan bersiap-siap untuk mengantarkan kekasihku ke pelabuhan.

Setibanya di pelabuhan  kami hanya bisa terdiam dan saling memandang. Kulihat jam di tangan, ternyata kami masih mempunyai waktu untuk bersama sebelum keberangkatan. Sorot matanya terlihat bahwa ia sedang menyimpan luka.

Keheningan itupun terpecah oleh suara mesranya.

“aku pergi tidak akan lama”, katanya.

“bagaimana mungkin kau pergi tak akan lama, negeri orang itupun jauh entah di mana”, jawabku.

“iya aku tau, tetapi aku pasti pulang untuk keluargaku dan juga untuk kau kekasihku, aku hanya ingin membahagiakan ibu dan memiliki masa depan yang cerah bersama denganmu nanti”.

Waktu terus berjalan, lagi-lagi berada dalam keheningan.

“maafkan aku yang tak pernah rela untuk berpisah jauh darimu, aku hanya ingin selalu ada di sampingmu”, kataku.

“keputusan ini memang sulit bagiku, tetapi aku harus melakukannya sayang”, jawabnya.

Air mata ini sulit sekali untuk ku tahan. Aku hanya bisa menatap kososng deburan-deburan ombak yang akan membawa kekasihku pergi ke negeri orang.

“aku hanya takut kau tidak ingat denganku lagi”.

“aku tidak akan meninggalkan gadis yang berarti dalam hidupku, aku hanya ingin kau bersabar dan menanti, aku janji hati ini hanya untukmu”.

Akupun tersenyum mendengar kata-katanya, meskipun hatiku terus berkata-kata apakah di sana nanti ia akan ingat dengan janji-janjinya.

Tut..tut…bunyi kapal yang menandakan bahwa kapal akan segera berangkat.

Inilah saatnya…

Kapalpun berangkat dan hilang di tengah deburan ombak. Akupun berlari pulang untuk melepaskan semua kepedihan ini.

Dua tahun menanti aku hanya bertemankan ombak. Berharap ombak akan membawa kekasihku pulang. Aku selalu menanti di tempat yang sama aku melepasnya pergi.

Rasa rindu ini selalu memaksaku untuk segera bertemu dengannya. Akan tetapi rasa keraguanku seakan menenggelamkan rasa rindu ini. Aku takut apakah dia masih ingat denganku? Atau bagaimana keadaannya di sana? Apakah dia baik-baik saja? Entahlah hanya waktu yang bisa menjawab.

Sembari menantinya sudah banyak deburan ombak yang ku hitung. Kesabaranku seakan-akan diuji.

Sampai pada akhirnya akupun telah putus asa untuk menanti.

“aku akan menanti sampai deburan ombak yang terakhir ini, jika kau tak pulang juga mungkin aku tidak akan menantimu lagi”.

***

Oleh: Novi Tri Wahyuni

Satu SMP di Bukittinggi yang Tidak UNBK Mandiri
Penyelenggara UNBK Tingkat SMP Meningkat di Pasaman Barat
Guru SMPN 1 Merangin Penemu Mesin Bor Tiga Dimensi
Nilai UN Tidak Jadi Syarat Dalam SNMPTN dan SBMPTN 2018
MUSIC
STAR Radio Padang Bertabur Bintang
FILM
Transformers: Age of Extinction Libatkan Animator
TREN
Ingin Tampil Gaya, Abaikan Aturan ini
BUDAYA
Merayakan Budaya Membaca, Cerita-cerita Klasik Dib