Hari ini, Booklovers Festival Dimulai

Booklovers Festival atau #BookLoversFest bukan saja cara seorang pecinta merayakan sebuah tradisi baca-membaca-bacaan, tapi juga penghormatan pada guru pengetahuan. Sebagai sang guru, buku hampir selalu ada dalam siklus penelusuran dan pergulatan manusia mencari nilai-nilai keadaban.

Sebentuk ikhtiar pemuliaan buku itulah festival ini digelar Radio Buku yang hadir dalam kesadaran publik pecinta buku dalam sebuah jaringan kompleks yang terhubung oleh jagat internet. Dan jagat yang kompleks ini sekaligus membawa revolusi baru dalam tradisi perbukuan kita.

Dalam tradisi baru jejaringan itu bukan saja pembaca makin memiliki peran otonom yang patut mendapat tempat dalam siklus perbukuan nasional, namun juga upaya setiap individu mendapatkan kesempatan yang sama dalam menulis buku.

“Hak buku untuk semua”, dengan demikian bisa diperluas pemaknaannya sebagai kesempatan egaliter setiap warga memproduksi pengetahuan lewat buku.

Mempertimbangkan dua hal itu — booklovers dan egalitarianisme dalam produksi pengetahuan — festival ini diselenggarakan dalam 23 pagelaran oleh 30an komunitas dan belasan pribadi kreatif selama satu purnama, 23 April hingga 23 Mei 2014.

Pembukaan #BookLoversFest diisi sejumlah acara, antara lain Kenduri Literasi, Orasi Buku, dan Peluncuran Instalasi Seni Buku.

Kenduri Literasi

Kenduri Literasi adalah ritus doa sebagai ungkapan rasa syukur atas kehadiran buku sebagai pelita dalam arkeologi pengetahuan kita. Dalam ritus ini, dipanjatkan doa dan mantera-mantera keselamatan dan kebaikan budi pekerti yang dituntun nilai-nilai luhur dari kitab-kitab para pemikir dan penggiat tradisi tulis.

Ritus Kenduri Literasi ini dipimpin Ki Herman Sinung Janutama dan diselenggarakan Cahaya Nusantara (Yantra); sebuah komunitas spiritual yang berpusat di Yogyakarta untuk pencarian titik temu tradisi-tradisi luhur Nusantara.

Kenduri yang ditandai dengan pemotongan tumpeng yang diserahkan langsung kepada Bupati Bantul Hj Sri Surya Widati ini menjadi simbol syukur dimulainya Festival Booklovers 2014 yang berada di kawasan kabupaten Bantul, tepatnya di Kecamatan Sewon.

Orasi Buku di Hari Buku Dunia

Wakil Menteri Bidang Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti tampil sebagai orator buku bertema “Buku Dunia: Pandangan Indonesia”. Tema itu dipilih, selain 23 April diperingati sebagai Hari Buku Internasional; juga secara koinsiden pada tahun 2015 Indonesia menjadi Tamu Kehormatan (Guest of Honour) di Frankfurt Book Fair, Jerman. Hadirnya Indonesia di panggung kehormatan \"olimpiade buku\" itu bisa kita jadikan momentum kebangkitan literasi Nusantara.

Sejarah keaksaraan kita sudah mencatat, bahwa Nusantara adalah tanah yang subur bagi beroperasinya pelbagai bahasa-luar yang dijadikan sebagai kendaraan untuk menulis, mencatat, dan menyadur cerita. Huruf-huruf dunia yang menjadi simbol bahasa juga beraneka ragam hadir.

Fakta-fakta itu menandakan bahwa Indonesia adalah tanah yang subur bagi tumbuhnya kreativitas dalam keaksaraan dunia. Beragam bentuk cerita diciptakan oleh pengarang-pengarang kita dari beragam ekspresi budaya dari zaman yang berbeda-beda merupakan pluralitas yang patut kita syukuri sebagai bangsa multikultur dan multiekspresi.

 

Peluncuran Buku “Seratus Buku Sastra” dan Instalasi Seni “The Book of Face”

 

Pada kesempatan yang sama, Wamen Kemendikbud Wiendu Nuryanti juga meluncurkan buku “Seratus Buku Sastra Yang Harus Dibaca Sebelum Dikuburkan”. Buku setebal 1001 halaman ini memberi keterangan awal dan dasar betapa dunia kesusasteraan kita yang beragam ini dibangun dalam sebuah visi bersama membangun peradaban literasi Nusantara. Kita jaga semangat kebangkitan ini dengan segala keteguhan hati dan kemauan untuk terus belajar dan berbagi.

 

Selain menggunakan momentum Frankfurt Book Fair pada tahun 2015 sebagai momentum bersama kebangkitan literasi Nusantara, buku hasil riset penulis-penulis muda Indonesia Buku ini juga bisa kita pergunakan menandai World Book Day pada 23 April di mana kesusasteraan Indonesia kita dorong untuk masuk dalam percaturan wacana dunia. Dari Kota Yogyakarta—yang kita upayakan sebagai “Ibu Kota Buku”—buku ini diluncurkan secara resmi kepada publik budaya.

Karya Instalasi Seni Buku Galam Zulkifli bertajuk “The Book of Face” yang diluncurkan bersamaan World Book Day dan Pembukaan Booklovers Festival oleh Wamen Wiendu Nuryanti adalah upaya merekam ribuan wajah pesohor dunia dari lapis profesi dan latar keilmuan; sekaligus wajah orang-orang biasa dari pelbagai kultur dengan teknik drawing dalam 500-an kitab dalam sebuah rak 3 x 8 meter. Instalasi buku ini menjadi karya raksasa dari seniman kontemporer dan sekaligus periset anatomi visual wajah yang serius dan gigih.

Pertunjukan Seni

Pembukaan Booklovers Festival menampilkan band indie yang menamakan diri Anyes Band. Band yang berkelana dari datu kafe ke kafe lain di Kota Yogyakarta ini ditandemkan dengan Karawitan Putri Purborini dan Musik Rebana Putri el-Hakim dari komunitas rebana ibu-ibu pengajian Kampung Geneng, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Dua angkatan dan dua letup bunyi ini turut dalam perhelatan awal festival buku.

Mereka Yang Hadir

Pembukaan Booklovers Festival 2014 bersifat terbuka untuk umum. Terutama pekerja buku dan budaya, penulis, pembaca, komunitas, sanggar seni, pejabat publik, mahasiswa, dan seniman. (rel)

Adanya Keterlambatan Pengumuman Hasil UN di SMP
Pemuda Indonesia Memperingati Hardiknas 2018, Juga Menyelenggarakan Kemah Pendidikan dan Apel Kebangsaan
Mendikbud, Muhadjir Effendy Menguatkan Hardiknas Menjadi Momentum Pendidikan dan Kebudayaan
MTsN 2 Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon Melaksanakan UNBK Dengan Modem
MUSIC
STAR Radio Padang Bertabur Bintang
FILM
Transformers: Age of Extinction Libatkan Animator
TREN
Ingin Tampil Gaya, Abaikan Aturan ini
BUDAYA
Merayakan Budaya Membaca, Cerita-cerita Klasik Dib