Persoalan Memberi Nama bagi Orang Kubu

“Siapa namanya?” tanya seorang petugas rumah sakit ketika sedang mengisi data pasien yang saya bawa.

”Gadih Bungo,” jawab saya enteng.

”Siapa? Gadis Bunga?”

”Bukan. Gadih Bungo,” jawab saya dengan perasaan sedikit tersinggung. 

Dan petugas itu pun tertawa. Dalam hati saya bertanya, apakah karena bukan Jawa, seperti Aditya atau Dyah Ayu? Apakah karena bukan Indonesia, seperti Budi atau Ani? Apakah karena bukan pula Eropa, seperti Barbara atau Daniel? Atau barangkali karena bukan Arab, seperti Fatimah dan Alwi? Mungkinkah juga karena pandangan yang terlalu skeptis untuk sebuah identitas Melayu sehingga segala yang berbau Minang kemudian dianggap mengada-ada?

Nama saat ini telah menjadi sebuah status sosial. Nama akan menjelaskan pribadi dan kehidupan seseorang. Perihal tentang nama pun akhir-akhir ini bahkan terdengar lebih menggelikan. Beberapa orang tua akan berpikir panjang untuk menamai anaknya dengan nama Arab yang pekat, karena nantinya akan disangka teroris. Mereka mungkin akan lebih tertarik untuk menamai anaknya dengan nama-nama Eropa sebab akan terlihat gagah dan bisa diterima oleh dunia.

Nama pun ternyata telah menjadi sebuah persoalan yang dititipkan kepada seorang anak. Beberapa orang yang senang dengan hidupnya dan merasa jaya dalam dunia ini, akan menitipkan namanya sendiri kepada anak-anaknya seolah sambil berkata, ”Jadilah seperti Ayah, Nak!” Dalam kebiasaan orang Indonesia pun nama tidak hanya sekedar penanda atau panggilan. Seorang bapak akan menyusun do’a do’a dan harapan-harapan yang banyak dalam sebuah nama. Berharap takdir nantinya berjalan sesuai dengan nama tersebut.

Namun bagi Orang Rimba, mereka merasa tidak begitu berkepentingan dengan nama. Mereka cukup mengenali anak-anaknya dengan bujang dan gadih atau dengan buyung dan upik. Dapat dipastikan bahwa mereka akan membiarkan alam memilihkan nama untuk anak-anak mereka karena kekhawatir terhadap hal buruk yang akan terjadi yang disebabkan oleh salah memberikan nama. Bahkan tidak jarang terjadi dalam kehidupan Orang Rimba ketika seseorang tidak mempunyai nama bahkan sampai tua.

Dalam kebiasaannya, Orang Rimba memberikan anak-anaknya nama sesuai dengan kebiasaan, sifat, atau ciri fisiknya. Dan ciri-ciri tersebut hanya bisa dilihat dengan jelas ketika mereka sudah kanak-kanak atau remaja—tidak ketika bayi—ketika mereka sudah bisa bergaul dan sudah terbiasa dengan rimba. Lingkungan tentunya akan membentuk kepribadian orang-orang rimba tersebut. Mereka akan memanggil anak mereka dengan sebutan Bujang Paibo sebab sifatnya yang sering murung dan rendah diri. Mereka pun akan memanggil anaknya dengan Bujang Bagak karena karakternya yang pemarah dan berani. Atau mereka akan menamakan anak perempuan mereka dengan Gadih Manih sebab parasnya yang cantik dan tuturnya yang baik.

Bagi Orang Rimba, nama tidak akan membesarkan jiwa seseorang tapi lingkunganlah yang akan membangun pribadi mereka. Ketika mereka beranjak dewasa dan pemebentukan jiwa mereka telah matang, nama pun tetap hanya menjadi sebuah penanda bukan sebuah do’a.

Satu kali, salah seorang dari Orang Rimba pernah menyeru, ”Pantau [panggil] ia Bujang Githan!”

”Apa itu Githan?” tanya saya.

”Tumbuhan akar yang menjalar dan buahnya masam.”

 

Adanya Keterlambatan Pengumuman Hasil UN di SMP
Pemuda Indonesia Memperingati Hardiknas 2018, Juga Menyelenggarakan Kemah Pendidikan dan Apel Kebangsaan
Mendikbud, Muhadjir Effendy Menguatkan Hardiknas Menjadi Momentum Pendidikan dan Kebudayaan
MTsN 2 Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon Melaksanakan UNBK Dengan Modem
MUSIC
STAR Radio Padang Bertabur Bintang
FILM
Transformers: Age of Extinction Libatkan Animator
TREN
Ingin Tampil Gaya, Abaikan Aturan ini
BUDAYA
Merayakan Budaya Membaca, Cerita-cerita Klasik Dib