Induk Orang Rimba

Hutan-hutan itu sudah dapat dikatakan tidak ada. Perluasan lahan kebun yang semakin menjadi dan eksploitasi hutan yang tidak dapat dibendung telah membuat kawasan hutan menjadi semakin sempit. Orang-orang berdasi dari kelompok kaya sibuk menghitung meter dan hektar lahan yang akan dikuasai. Orang-orang dengan mobil berplat merah pun sibuk dengan cita-cita kemakmuran bangsa serta candu dengan penandatanganan izin pengelolaan dan penguasan lahan. Bunyi-bunyi mesin penebang kayu pun terdengar sebagai pekikkan anak-anak yatim yang takut hidup sendiri. Api menjalar, membakar pohon-pohon dari lurah sampai ke puncak bukit. Kemudian terciptalah asap, semakin menjadilah kabut yang membatasi jarak pandang mata. 

Begitulah keadaan hutan Sumatra Barat sejak awal abad-20. Tanah Rimba yang luas dahulu, kini terlihat seperti gurun abu. Karet dan sawit akan segera memenuhi cita-cita manusia tentang kemakmuran. Tapi dalam menjalankan angan-angan tersebut, Dharmasraya kemudian menjadi panas dan sangat panas sehingga hampir setiap rumah harus memiliki kipas angin untuk menyegarkan tubuh yang basah karena peluh.

Di dalam area rimba baru, sebuah rimba muda yang tumbuh karena lahan yang tidak diolah dengan baik oleh para pemilik modal besar, duduklah seorang perempuan di atas gelogorh (lantai yang terbuat dari batang-batang kayu) seraya mengupas tubo, sejenis umbi yang pahit rasanya, sambil menunggu anak-anaknya datang. Di depannya api unggun berkayu tungkal sedang menyala kecil, ia memanggang tubo tersebut ke dalam api unggun. Hanya itu rezeki hari ini. Tidak ada daging untuk dimakan dan tidak ada jernang yang bisa dijual. Sekarang musim bintang mandi. Air turun dari langit dengan lebat tak henti. Binatang-bintang tentunya tidak akan keluar di musim basah seperti ini. Letak sarangnya pun susah untuk dicari. Kalau langit sudah terang, barulah bisa berjalan untuk mencari buruan dengan mengikuti jejak hewan liar yang tak sempat dipupus hujan.

Perempuan itu adalah kepala rombongan yang terdiri dari satu keluarga besar. Semua titah berasal darinya dan semua harta akan dikumpulkan kepadanya. sebagai seorang induk dari anak-anaknya, dia akan tetap menunggui genah untuk menjaganya dari serangan cigak dan beruang. Di genah ini jugalah ia akan membesarkan anak-anaknya yang belum lagi bisa berburu. Dia tidak mengenal takut akan hutan dan liarnya kehidupan rimba sebab tidak ada tempat berlari dan bersembunyi di dalam tempat persembunyian. Hutan, walaupun bagaimana keadaannya, adalah kampung halaman baginya.

Perempuan itu adalah induk orang-orang rimba. Ia akan melepaskan anaknya lebih jauh lagi ke dalam liarnya rimba tanpa ragu. Dia akan mengajarkan anak-anaknya bertarung dengan ular kubut yang sebesar paha, dengan babi yang bertaring tajam, atau dengan beruang yang bahkan suaranya pun sangat mengerikan. Dia, perempuan itu, akan mengajarkan anak-anaknya untuk membuang rasa takut yang datang di setiap malam, membuang kecemasan yang acapkali tiba ketika auman harimau terdengar lantang. Dia akan mengajarkan anakanya menjadi sebatang pohon yang tidak akan menjerit bila ditebang, yang tidak akan berlari dari suara-suara yang mengerikan.

Tubo yang dibakar diunggun tadi belum lagi matang betul ketika anak-anakanya pulang dari bermalam entah di hutan mana.

\"Sudah seminggu kau berjalan, apa yang kau dapat?\" tanya Perempuan itu.

\"Tidak ada. Orang-orang dusun sudah mendahuluinya. Aku hanya membawa sebuah kabar bahwa hutan ini akan dibabat habis sampai keujung untuk ditanami kayu meranti.\"

pendidikan 20 persen di APBD, Baru dua provinsi dan 26 kabupaten/kota
Jadwal Pelaksanaan SNMPTN
Jurusan Ini Banyak Dicari Perusahaan Zaman Now
Presiden Jokowi Bagikan 1.010 kartu KIP
MUSIC
STAR Radio Padang Bertabur Bintang
FILM
Transformers: Age of Extinction Libatkan Animator
TREN
Ingin Tampil Gaya, Abaikan Aturan ini
BUDAYA
Merayakan Budaya Membaca, Cerita-cerita Klasik Dib