Suku Anak Dalam, Bertarung dengan Dunia Luar

\"Voyage to Koebeo\'s Land\", sebuah kumpulan laporan etnologis gaya baru, yang terlibat, yang empatik, dan penuh perenungan. Ditulis seorang aktivis muda lingkungan hidup yang telah hidup bersama Suku Anak Dalam selama bertahun-tahun, dan telah dinobatkan dengan nama \'Bujang Githan\'  oleh mereka.

Untuk tulisan pembuka, kami hadirkan sebuah tulisan bertajuk \"Suku Anak Dalam, Bertarung dengan Dunia Luar\". Ke depan kami akan memuat tulisan-tulisan lain dengan judul yang berbeda tetapi seluruhnya punya satu garis yang bisa menyatukannya: Suku Anak Dalam di tengah hantaman modernitas yang membanjiri hutan mereka. Selamat menyimak tulisan-tulisan berikutnya.

***

Suku Anak Dalam, Bertarung dengan Dunia Luar

Orang-orang akan tetap memanggil mereka Kubu, sebab kulit mereka yang seperti bersisik dan bau mereka yang selalu membuat muntah. Mereka tetap akan dikenal sebagai yang kolot, kotor, dan bahkan kafir sebab tidak menganut agama apa pun.

Mereka yang berambut keriting dengan kulit coklat gelap serta hidung yang memang tidak mancung sangat cocok sekali dengan ciri-ciri Ras Negrito dan Veddoid yang hidup di daratan Sumatra sebelum kedatangan Rombongan Melayu Tua. Kubu, mereka, akan tetap menghindar dan mengasingkan diri dari pembaharuan dan budaya-budaya baru yang datang bertubi-tubi dari arah utara dan dari arah laut.

Ketika itu, ketika tahun belum bisa disebut, ketika hari belum lagi bernama, sekelompok orang tetap berteguh hati dengan kebudayaan yang telah ada yang dianggap lebih tua, merasa enggan atau barangkali cemas dengan para pertapa dan kitab weddha, merasa asing dengan candi dan pura serta banyaknya tuhan yang harus disembah, kemudian merasa takut dengan orang-orang bersurban putih dengan lambang pedang bersilang di benderanya. Sedang para pendatang tersebut selalu memaksakan ideologi dan memerangi siapa saja yang enggan tunduk dan tidak mau bekerja sama. Sekelompok orang inilah yang kemudian disebut dengan Kubu, atau saat ini lebih dikenal dengan Suku Anak Dalam, yang lebih memilih hidup jauh di dalam hutan rimba, jauh dari tekanan sosial yang selalu menjadi adat bagi manusia, jauh dari kemajuan yang selalu menjadi cita-cita manusia, dan jauh dari pendidikan yang mampu menjadikan manusia sebagai pencipta.

Ada pula yang berkata bahwa, mereka adalah tentara Raja Pagaruyuang yang dikirim untuk menolong kerajaan Jambi yang dipimpin Puti Selaras Pinang, Putri Pagaruyuang sendiri yang ketika itu sedang berperang melawan Kerajaan Tanjung Jabung dengan rajanya bernama Rang Kayo Hitam. Jauhnya jalan yang harus ditempuh, beratnya medan yang harus ditelusuri, bukit-bukit yang menjulang, rimba-rimba liar yang penuh dengan binatang buas, ternyata tidak mampu mereka lewati. Persedian makan pun habis. Apa boleh buat, kerajaan Jambi masihlah jauh, sedang mereka tidak mungkin pulang ke Pagaruyuang dengan membawa malu. Mereka, kelompok tentara itu, memilih untuk menetap di dalam rimba. Berita tentang mereka pun hilang sudah semenjak itu. Mereka hidup dalam sunyinya berita tentang manusia dan jauh dari pranata formal.

Kemudian bersebarlah dongeng-dongeng, cerita-cerita untuk mengukuhkan keberadaan sekelompok manusia yang tiba-tiba ditemukan hidup berpindah di dalam rimba Sumatra bagian tengah. Seorang Belanda, Van Dongen (1906), menggambarkan mereka sebagai sekelompok manusia primitif yang mempunyai taraf hidup dan kemampuan rendah. Orang-orang terpelajar pun ikut serta meneliti dan mengembangkan berbagai cerita tentang asal-usul mereka. Dalam Disertasinya, Muntholib Soetomo memaparkan dongeng Buah Gelumpang. Dongeng perkawinan seorang pemuda yang bernama Bujang Perantau dengan Putri yang berasal dari Buah Gelumpang yang kemudian melanjutkan keturunan di dalam rimba.

Suku Anak Dalam dikurung oleh rimba sedari dahulu dan dibesarkan oleh cerita sampai sekarang. Mereka belum lagi mengerti tentang pentingnya tulisan dan lagu-lagu, belum lagi mengerti tentang para penari yang melenggang-lenggokan pinggulnya untuk satu pemujaan atau pun untuk hiburan di atas panggung, mereka pun belum begitu berkepentingan dengan nama-nama. Banyak di antara mereka yang dipanggil buyung atau upik saja sampai dewasanya sebab belum dilekatkan kepadanya sebuah nama. Yang mereka tahu adalah sebuah kujogh (tombak) untuk berburu dan sebuah musim bintang mandi untuk beristirahat atau mencari trenggiling.

Mereka masih menutup diri terhadap agama yang datang entah dari kampung mana, menjauhkan keluarga mereka dari Luhak yang kalah, sebab Melayu telah menjadi Hindu-Buddha, dan jauh sesudahnya pun Pagaruyuang dikuasai Islam. Entah siapa itu Depunta Hyang, entah siapa itu Parpatiah nan Sabatang, dan di manakah ia yang bernama Katumanggungan lahir dan tinggal. Mereka yang tidak begitu dipentingkan sejarah, terasing dari rumahnya sendiri, tercampakan dari ilmu pengetahuan, akan selalu berkata, \"Kita adalah Orang Rimba. Kita memiliki Ninik yang sama, sama-sama berasal dari Pagaruyuang\".

Adanya Keterlambatan Pengumuman Hasil UN di SMP
Pemuda Indonesia Memperingati Hardiknas 2018, Juga Menyelenggarakan Kemah Pendidikan dan Apel Kebangsaan
Mendikbud, Muhadjir Effendy Menguatkan Hardiknas Menjadi Momentum Pendidikan dan Kebudayaan
MTsN 2 Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon Melaksanakan UNBK Dengan Modem
MUSIC
STAR Radio Padang Bertabur Bintang
FILM
Transformers: Age of Extinction Libatkan Animator
TREN
Ingin Tampil Gaya, Abaikan Aturan ini
BUDAYA
Merayakan Budaya Membaca, Cerita-cerita Klasik Dib