Kampung Naga, Pemegang Teguh Tradisi Nenek Moyang

Indah dan damai serasa menyatu ketika menginjakkan kaki di bumi masyarakat Kampung Naga. Langit tampak senyum halus ketika melihat alam yang masih permai dan asri ini. Kampung Naga, terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Siapa orang tanah sunda yang tidak tahu akan kampung yang asri ini, salah satu kampung Pemegang Teguh Tradisi Nenek Moyang secara turun temurun.

Pesona alam yang disajikan Kampung Naga begitu membuat mata ini tertarik. Diawali ketika menuruni  lebih kurang 304 anak tangga, keindahan pun mulai menyapa pengunjung dengan bentuk rumah para penduduk yang seragam dan semua nya menghadap kearah timur, konon kata sang kuncen nya itu adalah salah satu ajaran nenek moyang yang masih terus dilestarikan. Melihat sawah yang hijau, serta binatang ternak yang dibiarkan lepas memakan padi-padian yang terhampar banyak di depan halaman masyarakat Kampung Naga membuat kampung ini tampak tentram. Tidak semua orang diperbolehkan masuk ke dalam Kampung Naga ini, bagi para wisatawan yang akan mengunjungi Kampung Naga harus terlebih dahulu berurusan dengan balai adat. Kemudian baru diperbolehkan turun memasuki alam yang asri ini dengan bimbingan para pemandunya.

“Warga Kampung Naga tidak hanya sekedar bertani saja di dalam Kampung ini, mereka juga bisa bekerja di luar seperti berwiraswasta atau pekerjaan lain. Disamping itu, warga kampung Naga juga membuat kerajinan dari bambu,” ujar Kang Yadi, salah seorang pemandu dari balai adat.

Kampung Naga memiliki dua bentuk pemerintahan, pemerintahan seperti kampung biasanya (RT/RW) dan pemerintahan adat (adanya Kuncen). Masyarakat Kampung Naga juga telah mengenyam pendidikan, meskipun rata-rata hanya sampai tingkat Sekolah Dasar (SD). Sebagai masyarakat yang masih memegang teguh ajaran leluhurnya, masyarakat Kampung Naga tidak memakai Listrik karena itu ajaran dari nenek moyangnya. Namun mereka memiliki televisi dengan menggunakan terminal radiator dan juga alat komunikasi seperti telepon genggam atau handphone.

Suasana damai dengan alam seakan  melekat dengan warga Kampung Naga, hal itu terlihat dari hutan yang sangat mereka jaga dan adanya larangan untuk memasuki hutan tersebut. Tidak hanya hutan saja, sungai juga termasuk larangan bagi masyarakat Kampung Naga. Sebagai Tradisi lainnya, masyarakat Kampung Naga juga mengadakan acara menyepi yaitu pada hari Selasa, Rabu dan Sabtu sebagai salah satu rasa hormat kepada leluhur. Dimana pada saat itu mereka dilarang berbicara soal adat istiadat Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga beragama Islam tapi mereka memiliki ritual-ritual tersendiri dalam hari-hari besar Islam.*

 

Restia Aidila Joneva, mahasiswi semester I Jurusan Jurnalistik UIN Sunan Gunung Jati, Bandung

Kemdikbud Harus Beri Edukasi Manual UNBK
SNMPTN 2018 Diumumkan pada hari ini
SBMPTN, Peserta Harus Jeli saat Pilih Jurusan Kuliah
Berakhirnya UN, Direktur Jenderal Pendidikan Dari Kemendikbud Mengimbau Siswa Tidak Lakukan Aksi Corat-Coret
MUSIC
STAR Radio Padang Bertabur Bintang
FILM
Transformers: Age of Extinction Libatkan Animator
TREN
Ingin Tampil Gaya, Abaikan Aturan ini
BUDAYA
Merayakan Budaya Membaca, Cerita-cerita Klasik Dib