Tiga Pelukis Tersohor dari Sumbar Pameran di Taman Budaya

Pameran lukisan tiga pelukis nasional asal Sumatera Barat yakni Kamal Guci (53 th), Herisman Tojes (55 th) dan Ibrahim (43 th) di galeri seni rupa Taman Budaya Sumbar, dibuka sore tadi (27/12).

Kegiatan pameran bagi ketiga pelukis yang telah puluhan kali berpameran ditingkat nasional itu akan berlangsung hingga 7 Januari 2014 mendatang. Karya-karya yang tampil merupakan kolaborasi estetik dan artistik dalam tiga kecendrungan penggayaan/style seperti naturalisme, surealis ekspresif dan abstrak bersumber dari kekuatan kearifan budaya lokal Minangkabau.

Kamal Guci kelahiran Pakandangan, Padang Pariaman, Sumatera Barat 13 Oktober 1953 yang pada pertengahan tahun ini baru saja mendulang sukses melalui pameran tunggalnya di Bentara Budaya Bali dan sebelumnya berpameran tunggal di Taman Ismail (TIM) Jakarta  dan Bentara Budaya Yogyakarta ini, oleh sejumlah pengamat seni rupa nasional disebutkan sebagai sosok jejak lanjut pesohor Sumatera Barat yakni Wakidi tokoh penting seni lukis era “Mooi Indie” pra kemerdekaan RI dan sesudahnya.

Sementara pelukis Herisman Tojes kelahiran Batusangkar, 10 Oktober 1958  kini menjadi guru seni lukis di SMKN 4 (SSRI/SMSR) Padang yang pernah menyandang finalis Indofood Art Awards di Jakarta (2002) dan pemenang 5 besar lomba lukis karya guru tingkat Nasional di Yogjakarta (2008) itu menyuguhkan karya-karya bak lantunan musik melodi Bethoven atau lantunan biolanya Idris Sardi menjadi aransemen disana-sini berupa garis dan warna-warnanya yang syahdu bahkan merdu.

Kemudian, Ibrahim, pelukis kelahiran Bukittinggi, 27 Oktober 1975 dan kini menjadi dosen di Insitut Seni Indonesia (ISI) Padang. Ia terlihat mengembangkan seni lukis dengan konsep abstrak. Warna-warna lukisan Ibrahim terlihat lepas dari asosiasi fenomena bentuk duniawi, tetapi menggiring pengamat lukisannya kepada realitas spiritual yang nonmaterial.

Menurut guru seni rupa di SMKN 4 Padang, Muharyadi, mengatakan, dari ketiga pelukis yang berpameran secara konseptif terlihat karya-karya yang inovatif dan kreatif. Ada ketajaman pikiran melalui sikap kritis terhadap lingkungan alam, sosial dan budaya. Melalui gambaran-gambaran dalam ketajaman harapan ketiga perupa mencermati, mencerdasi, dan mengharapkan representasi kehidupan keseharian di daerah leluhurnya Minangkabau melalui sapuan garis dan warna-warna indah di sana sini. (gry)

Zonasi Sekolah Permudah Distribusi Guru
Tak Lulus SBMPTN? Saatnya Pilih Kampus Terakreditasi
Sekolah Tak Boleh Kenakan Pungutan Liar
Kementerian PUPR Sasar SMK untuk Kerjasama Sosialisasi Infrastruktur
MUSIC
STAR Radio Padang Bertabur Bintang
FILM
Transformers: Age of Extinction Libatkan Animator
TREN
Ingin Tampil Gaya, Abaikan Aturan ini
BUDAYA
Merayakan Budaya Membaca, Cerita-cerita Klasik Dib