Malam Nanti, Ada Monolog Aktor Senior dan Musikalisasi Puisi di HW Hotel

Minangkabau Arts Festival yang mengangkat tema “Revitalisasi Kaba Menuju Seni Pertunjukan Modern” menampilkan pertunjukan monolog dengan penampilan aktor senior Sumatera Barat, Selasa (24/12) malam. Aktor senior yang tampil, Syuhendri dan Noni Sukmawati, serta komposisi musik dari Komunitas Seni INTRO Payakumbuh di Ruang Pertunjukan Hotel Hayam Wuruk Padang.

“Malam ini, Minangkabau Arts Festival digelar di Hotel Hayam Wuruk Padang dengan menampilkan monolog dan musikalisasi puisi,” kata Nasrul Azwar, Ketua Program Rumah Budaya Nusantara Noktah.

Noni Sukmawati, aktor Teater Kita Padang, dan juga pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Unand menampilkan monolog “Sabana Na Gondan”, sedangkan Syuhendri menyajikan monolog “Juki” yang berbasis dari tradisi kaba Siti Baheram. Sementara itu, Komunitas Seni INTRO menyuguhkan empat nomor musikalisasi puisi-puisi dan alat musik tradisi Minang, yaitu “Sirompak Taeh”, “Si Bincik”, “Jalu-jalu”, dan “Banang dan Kumpalan”.

Syuhendri dalam monolog Juki ini mengambil sisi sisi lain tokoh Juki dalam Kaba Siti Baheram. Ia melihat Juki sebagai sosok lelaki Minang yang bisa berperan sebagai mamak, bapak, dan lainnya.

“Saya tak menampilkan aspek pembunuhan yang dilakukan Juki seperti dikisahkan dalam kaba tersebut. Pembunuhan yang terjadi dalam kaba tersebut karena provokasi orang lain. Tapi sisi percintaannya dengan Siti Baherram. Juki dan Siti Baheram menjadi personafikasi sebagaimana yang tersirat dalam kaba lama. Kehadiran mereka bagai api dalam sekam. Saya akan tampilkan sisi humanistis Juki sebagai manusia,” kata Syuhendri.

Dalam monolog ini, Syuhendri akan menggabungkan penampilannya dengan komposisi musik tradisi Minang dengan seting dan suasana panggung yang suram. Suram ini disesuaikan dengan gambaran cerita monolog Juki. Dipadukan dengan pertunjukan tradisional ulu ambek, gerak dasar silek. Dan ini diharapkan menjadi bentuk pemanggungan teater Minangkabau.

Sementara itu, Komunitas Seni INTRO dengan komposer Ijot Goblin menampilkan kekuatan musik tradisi Minang berupa sampelong, pupuik, dan gandang tambua, memadukannya dengan kekuatan kata-kata puisi Iyut Fitra, yang kental dengan latar Minangkabau.

Menurut Nasrul Azwar, revitalisasi kaba memunculkan seni pertunjukan yang lebih dinamis, kuat, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. “Kaba (seni lisan Minang) harus diberi ‘napas baru’ (new spirit) agar ia menjadi subjek dan berkontribusi dalam era globalisasi ini, sekaligus memperkuat karakter masyarakat pendukungnya, terutama generasi muda,” katanya.

Minangkabau Arts Festival ini akan berlangsung sampai tanggal 28 Desember. Cerita kaba yang jumlahnya ratusan di Minangkabau itu, sejak dulunya telah banyak menginspirasi, baik bagi sastrawan, koreografer, komposer, dan juga pegiat teater di Sumatera Barat. Namun hal itu belum dilakukan sebagai sebuah “gerakan” dan masih jauh jika disebut jadi mainstream atau arus utama seni pertunjukan modern itu sendiri.

“Selain itu, seniman belum sungguh-sungguh menjadikan kaba sebagai inspirasi berkarya,” terang Nasrul Azwar. (rel)

Kemdikbud Harus Beri Edukasi Manual UNBK
SNMPTN 2018 Diumumkan pada hari ini
SBMPTN, Peserta Harus Jeli saat Pilih Jurusan Kuliah
Berakhirnya UN, Direktur Jenderal Pendidikan Dari Kemendikbud Mengimbau Siswa Tidak Lakukan Aksi Corat-Coret
MUSIC
STAR Radio Padang Bertabur Bintang
FILM
Transformers: Age of Extinction Libatkan Animator
TREN
Ingin Tampil Gaya, Abaikan Aturan ini
BUDAYA
Merayakan Budaya Membaca, Cerita-cerita Klasik Dib