Hari ini, Minangkabau Arts Festival Dimulai

Kelompok Studi Sastra dan Teater (KSST) Noktah Padang menggelar Minangkabau Arts Festival dengan tema “Revitalisasi Kaba Menuju Seni Pertunjukan Modern” yang dimulai hari ini, Senin (23/12) hingga 28 Desember 2013 di tiga kota di Sumatera Barat (Padang, Payakumbuh, Sawahlunto). Minangkabau Arts Festival (MAF) menghadirkan 12 pertunjukan seni (teater, musik, dan monolog) modern yang berbasis pada seni tradisi lisan Minangkabau.

Revitalisasi kaba Minangkabau menuju seni pertunjukan modern ini merupakan salah satu program Rumah Budaya Nusantara (RBN) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dilaksanakan KSST Noktah.

Senin sore ini digelar tiga pertunjukan teater di Gedung Teater Tertutup dan Medan Nan Balinduang UNP. Ketiga kelompok yang akan tampil itu adalah Teater Rumah Teduh dengan naskah “Mull In 2.0:Pada Sebuah Kapal (Kaba Malin Kundang)” karya dan sutradara sutradara Harry Kurniawan, “Bengkalai (Kaba Gadih Basanai)” karya sutradara Rori Maidi Rusdji dari Ruang Kreativitas Serunai Laut, dan “Inikah Sistem Itu (Rancak di Labuah) karya dan sutradara Mila K Sari.

Selasa-Rabu malam (24-25/12), MAF dilanjutkan di Hotel Hayam Wuruk dengan menampilkan komposisi musik Minang Parewa Lima Suku Padang, Komunitas Seni Intro Payakumbuh, dan monolog Yusril Katil, Zurmailis, Noni Sukmawati, dan Syuhendri.

Kamis (26/12) Teater Cabang Padang mementaskan Rawang dengan sutradara Zelfeni Wimra. Cerita ini bersumber dari cerita rakyat di Limapuluah Koto.

Jumat (27/12) pertunjukan digelar di Payakumbuh dengan naskah “Tambo Gustaf #1 Atau Siapa Saja” sutradara Dede Pramayoza. Tambo Gustaf ini tranformasi dari novel Tambo: Sebuah Pertemuan karya Gus Tf Sakai.

Sabtu (28/12),  MAF ditutup di Sawahlunto dengan pementasan Lareh Simawang oleh Teater Kuali.

Menurut Nasrul Azwar, Penanggung Jawab Program RBN, revitalisasi kaba diharapkan melahirkan seni pertunjukan yang lebih dinamis, kuat, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat kontemporer.

“Kaba (seni lisan Minang) harus diberi ‘napas baru’ (new spirit) agar ia menjadi subjek dan berkontribusi dalam era globalisasi ini, sekaligus memperkuat karakter masyarakat pendukungnya, terutama generasi muda. Dua belas seniman yang terlibat dalam Minangkabau Arst Festival ini menampilkan karya-karya seni pertunjukan berupa monolog, teater, dan musik, yang semuanya berbasis tradisi kaba di Minangkabau,” kata Nasrul Azwar.

Cerita kaba yang jumlahnya ratusan di Minangkabau itu, sejak dulunya telah banyak menginspirasi, baik bagi sastrawan, koreografer, komposer, dan juga pegiat teater di Sumatera Barat. Namun hal itu belum dilakukan sebagai sebuah “gerakan” dan masih jauh jika disebut jadi mainstream atau arus utama seni pertunjukan modern itu sendiri.

“Selain itu, seniman belum sungguh-sungguh menjadikan kaba sebagai inspirasi berkarya,” terang Nasrul Azwar. (rel)

Zonasi Sekolah Permudah Distribusi Guru
Tak Lulus SBMPTN? Saatnya Pilih Kampus Terakreditasi
Sekolah Tak Boleh Kenakan Pungutan Liar
Kementerian PUPR Sasar SMK untuk Kerjasama Sosialisasi Infrastruktur
MUSIC
STAR Radio Padang Bertabur Bintang
FILM
Transformers: Age of Extinction Libatkan Animator
TREN
Ingin Tampil Gaya, Abaikan Aturan ini
BUDAYA
Merayakan Budaya Membaca, Cerita-cerita Klasik Dib