Dunia Main-main Aisyah yang Merdeka

Aisyah duduk menyandar di partisi pameran, tempat lukisannya dipamerkan. Setangkai bunga plastik masih dipegangnya. Gadis kecil ini terlihat agak letih. Setelah berjalan, kadang berlarian, mengelilingi ruang pameran, melayani pengunjung yang ingin tahu tentang lukisannya.

Aisyah menjelaskan setiap lukisannya dengan riang dan semangat. Menceritakan apa yang dilukis, mulai dari judulnya, maksud lukisannya, dan seterusnya. Kemudian melayani mereka yang ingin memoto dan wawancara—meski sedang wawancara atau berfoto, kadang dia berlarian lagi menuju lukisan yang lain. Selama pembukaan pameran tunggalnya tersebut, pelukis cilik itu terlihat aktif, bergerak kesana-kemari di antara lukisan dan sketsa yang dipamerkan.

Puti Aisyah Al Humairah, begitu nama lengkap putri dari almarhum Sutan Muhammad Ridha dan Sherly Amir ini. Dia lahir di Padang, 8 September 2007. Murid kelas I Mina SD Al Azhar 32 Padang. Mewarisi bakat seni dari kakeknya almarhum Wisran Hadi, serta neneknya Puti Reno Raudha Thaib—dua nama besar dalam dunia seni dan budaya di Sumatera Barat dan Indonesia.  

Pameran Lukisan Aisyah di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Sumbar, yang dibuka kemarin sore (20/12), merupakan pameran tunggal Aisyah pertama. Ada 19 lukisan cat minyak di atas kanvas dan 21 sketsa karya Aisyah yang dipamerkan dalam rangkaian Festival Desember tersebut. Pameran dan festival yang diselenggarakan Lembaga Kebudayaan Ranah untuk mengenang Wisran Hadi ini berlangsung hingga Minggu (22/12) mendatang.

\"\"

Transformasi imajinasi dan fantasi

Melihat lukisan Aisyah, tidak akan terbayang kalau yang membuatnya anak usia 6 tahun. Sebab, tidak ada bentuk lukisan anak-anak kebanyakan dari karyanya. Dan, tak perlu juga bertanya, apa aliran yang diusung. Yang jelas, Aisyah mengumpulkan semua aliran pelukis-pelukis hebat pada lukisannya. Ada Picasso, Nashar, dan seterusnya, dalam lukisan-lukisan Aisyah. Lukisan yang dibuatnya, dengan kebebasan imajinasi dan fantasi kanak-kanaknya.

Tidak ada yang mengajarkan Aisyah melukis. Karyanya lahir dari cara dan pikirannya sendiri. Adalah kakeknya—semasa hidup—yang memberinya kertas, pensil dan krayon untuk bermain coret-coretan sendiri, yang kemudian melahirkan sketsa. Kemudian, setelah kakeknya meninggal, Aisyah mulai melukis dengan cat minyak di atas kanvas. Menariknya, cat yang dipakai Aisyah pertama kali untuk melukis adalah milik kakeknya.

Seperti diceritakan neneknya, Puti Reno Raudha Thaib, lukisan Aisyah berangkat dari apa yang dilihatnya, dibacanya, ditontonnya, dan dibayangkannya. Aisyah dengan bebas melukiskan semuanya itu di kanvas. Seperti lukisan berjudul “Pak Ransel”. Lukisan tersebut lahir dari imajinasinya setelah melihat etalase benda-benda seni kakeknya Wisran Hadi yang tergantung di dinding. Di sana ada topeng, dan pernak-pernik seni lainnya, yang kemudian transformasikan Aisyah ke kanvas menjadi “Pak Ransel”.

Lukisan lainnya, “Kaca dan Jam Dinding”. Muncul dari jam dinding di ruangan dia biasa melukis yang di bawahnya tergantung cermin untuk berkaca. Melihat dua benda tergantung di dinding itu, dia pun mengimajinasikannya di kanvas.

Begitu juga fantasi kanak-kanak Aisyah dalam melukis. Kita bisa lihat lukisan “Peri Merah di Siang dan Malam”, “Hotel Khusus untuk Peri”, “Pelangi Dimakan Raksasa”, “Putri Duyung Pakai Kutek”, “Tinkerbell dan Bunga Ajaib”, serta lainnya. Lukisan-lukisan yang ditransformasikannya dari bacaan dan tontonannya.

Tak kalah menariknya, lukisan “Makanan Icha di Bulan Puasa” yang lahir dari bayangannya tentang apa yang ingin dimakannya saat berbuka. Kala itu, Aisyah sedang puasa. Hampir tak kuasa menahan lapar. Lalu, neneknya menyarankan melukis makanan yang ingin dimakan saat berbuka nanti. Maka dilukisnya dalam bentuk tulisan makanan-makanan yang ada dibayangannya itu.

Dan, salah satu lukisan yang menarik dan paling disukainya, “Wisran Hadi yang Lucu”. Seperti sebuah persembahan untuk kakeknya. Setiap orang yang melihat lukisan tersebut akan bertanya, dimana Wisran Hadi-nya? Memang, di lukisan itu kita tidak akan menemui Wisran Hadi. Dia hanya ada dalam imajinasi dan ingatan.

\"\"

Ada puisi di setiap lukisannya

“Setiap lukisan Aisyah ada puisinya,” begitu kata Aisyah.

Sastrawan Yusrizal KW, mengakui, apa yang dikatakan Aisyah tersebut. Lukisan-lukisan Aisyah, memang, menyimpan kekuatan puisi. Ini bisa dilihat dari judul-judulnya, yang cenderung terpilih dan menawarkan aroma sastrawi.

“Dan memang, ketika sedang mood, dia bisa menceritakan kepada kita lukisan itu dengan latar puisi. Saya menafsirkan sendiri, lukisan-lukisan Aisyah, adalah karya murni seorang anak yang telah berkali-kali pergi dan pulang ke dunia fantasinya, ke ranah imajinasinya, ke suatu tempat alam bawah sadarnya, yang ternyata memberi kita buah tangan, lukisan-lukisan dan sketsa. Tentu tidak semua anak-anak bisa berpergian ke dunia yang telah dikunjungi Aisyah, karena dunia itu hanya milik anak-anak berbakat dan kreatif yang kemampuan mengekspresikan dirinya luar biasa,” kata owner inioke.com ini.

Kemerdekaan diri berkreativitas

Membayangkan anak-anak melukis, yang ada diingatan kebanyakan orang tentu gambar gunung, matahari, sawah, rumah, dan sebagainya. Namun, Aisyah tidak pernah melukis itu. Ia muncul dengan dunianya sendiri. Imajinasi dan fantasinya sendiri. Sehingga, lukisannya berbeda dari anak-anak kebanyakan seusianya.

Pengamat seni rupa, Muharyadi, melihat spontanitas warna dan daya imajinasi kanak-kanak pada lukisan-lukisan Aisyah. Di sana terletak kekuatannya. “Warnanya terlihat spontan, seolah mewakili dunia kanak-kanaknya, yang juga spontan untuk berbuat sesuatu dan menyampaikan sesuatu,” katanya.

Sementara itu, pelukis Asri Rosdi berpendapat, karya Aisyah memperlihatkan dunia imajiner kanak-kanak yang begitu luas dan penuh kejutan. Ia melihat Aisyah bergerak bebas dalam berkarya sesuai imajinasinya. Tidak ada tekanan dan intervensi pihak mana pun. Artinya, Aisyah merdeka dalam berkarya sesuai keinginannya.

***

Seperti itulah dunia Aisyah bersama lukisannya. Dunia main-main kanak yang penuh fantasi. Dunia yang jujur dan merdeka dalam berimajinasi. Sapuan kuasnya adalah kebanggaan kita bersama. Sebuah harapan baru bagi dunia kreatif di Sumatera Barat. Dan tahun depan, Aisyah memiliki impian akan pameran 129 lukisannya. Selamat ya, Aisyah. Semoga impianmu menjadi nyata. (***)

Adanya Keterlambatan Pengumuman Hasil UN di SMP
Pemuda Indonesia Memperingati Hardiknas 2018, Juga Menyelenggarakan Kemah Pendidikan dan Apel Kebangsaan
Mendikbud, Muhadjir Effendy Menguatkan Hardiknas Menjadi Momentum Pendidikan dan Kebudayaan
MTsN 2 Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon Melaksanakan UNBK Dengan Modem
MUSIC
STAR Radio Padang Bertabur Bintang
FILM
Transformers: Age of Extinction Libatkan Animator
TREN
Ingin Tampil Gaya, Abaikan Aturan ini
BUDAYA
Merayakan Budaya Membaca, Cerita-cerita Klasik Dib