Single Origin dari Minangkabau itu Bernama Kopi Solok

Orang-orang mengitari meja bulat yang di atasnya terletak beberapa gelas dengan label A. Di gelas itu ada bubuk kopi sekitar 10 gram. Mereka mengangkat gelas itu, menggoyang-goyangkannya, kemudian membawa ke hidung sambil menghidu dalam-dalam.

“Mmm.... aromanya enak. Beda dengan yang sebelah sana,” kata seorang perempuan muda.

Apa yang dirasakan perempuan itu hampir sama dengan yang lainnya. Mereka mengagumi aroma kopi yang belum di seduh itu. Mereka seakan sepakat bahwa kopi ini pasti nikmat dan memberikan sensasi rasa yang berbeda di lidah.

Sebelumnya, mereka juga telah menghidu kopi yang terletak di meja lain yang bersebelahan dengan label A. Kopi dalam gelas yang dilabeli B dan C itu, diperlakukan sama. Namun, tidak ada decak kagum atau rasa penasaran seperti kopi di gelas label A.

Adalah Mira Yudhawati, Q Grader atau pencicip kopi perempuan bersertifikat internasional, yang mengarahkan para penikmat dan pecinta kopi yang hadir di Rumah Kopi Nunos, Kamis (26/9) sore itu. Mira dan rekan-rekannya serta penikmat kopi di Nunos melakukan cupping kopi single origin terbaru dari Sumatera Barat.

Selanjut, setelah mencium aroma kopi di masing-masing gelas yang disiapkan oleh Irvan, barista di Headline Coffee, Kemang, Jakarta, bersama barista Rumah Kopi Nunos, kopi itu mulai diseduh. Disiram air panas dengan suhu 92 derajat selcius. Sebuah timer atau penghitung waktu ditempatkan di masing-masing meja. Waktunya diatur 4 menit. Setelah 4 menit selesai diseduh, Mira mengajak orang-orang tersebut mengangkat gelas, dan mengambil sendok yang disediakan untuk mendorong ampas kopi yang merapung. Kemudian, menghidu aroma kopi yang telah diseduh tersebut. Setelah itu, barulah dicicipi dengan menggunakan sendok tadi. Merasakan di lidah, kopi yang dilabeli A, B, dan C, yang tidak dikasih tahu single origin dari mana.

\"\"

Q Grader Mira Yudhawati menyeduh kopi untuk cupping di Rumah Kopi Nunos. (gry/inioke)

Berbagai ekspresi terlihat saat para pecinta dan penikmat kopi ini menikmati dari masing-masing gelas tersebut. Ada yang mengernyitkan dahi, ada yang tenang tanpa ekspresi apa-apa, ada yang mengangguk-angguk, ada yang berkomentar tentang rasanya, sebagainya.

Namun, saat mereka sampai di gelas berlabel A, mereka terlihat gembira dan bercerita kepada teman di sebelahnya, bahwa, kopi ini enak. Ada rasa lain, selain kopi, saat mencicipinya. Begitu antara lain komentar mereka.

“Ini membuka selera saya terhadap kopi Arabika. Selama ini saya hanya menggilai kopi Robusta,” kata Budhi Afrizaldi, pecinta dan penikmat kopi yang datang jauh-jauh dari Sijunjung, untuk mencicipi kopi terbaru ini.

Setelah masing-masing lidah mencicipi kopi di gelas A, B, dan C tersebut, Irvan menyampaikan kopi yang dipakainya untuk cupping tersebut. “Kopi di gelas A itu Kopi Solok, gelas B Kopi Sumatera Lintong, dan gelas C Kopi Jawa,” kata Irvan.

“Ternyata pilihan kita benar, A adalah Kopi Solok,” kata semua orang hampir bersamaan, begitu Irvan selesai ngomong.

“Rasa lemon-nya dapat. Kemudian gorengannya atau rosternya juga pas, sehingga Kopi Solok ini menjadi kopi Arabika terbaik yang pernah saya minum. Rasanya membuat saya berkhianat dari Robusta yang selama ini saya sukai. Jujur, saya mengagumi dan menyukai Arabika dari Solok ini,” kata Budhi si penggila kopi Robusta.

Sementara itu, Mira yang sebelumnya memaparkan tentang rasa Kopi Solok ini, memberi nilai kopi yang tumbuh di Seberang Danau, Alahan Panjang, ini 8,21 dari skala 1-10. Nilai yang sangat bagus.

“Aroma kopi ini ketika diseduh sangat wangi, karakter body yang sedikit light, sedikit rasa buah juga terkandung dalam seduhan kopi ini. Juga ada rasa spicy atau rasa rempah ketika kamu menyeruput kopi ini yang telah diseduh dengan air panas bersuhu 90-95 derajat celcius dan didiamkan selama 4 menit,” kata Mira, sembari menambahkan, ada yang menyebut rasa rempah Kopi Solok ini seperti rasa sereh atau serai.

Saking tertariknya dengan Kopi Solok, Mira sengaja meluangkan waktu untuk melihat perkebunan kopi di Alahan Panjang tersebut. “Permintaan terhadap kopi ini telah besar, walaupun kemarin hanya dipromosikan lewat Blackberry Messanger dan media sosial saja,” kata pemilik Headline Coffee tersebut.

Selain Irvan, Mira datang bersama suaminya Resha, pecinta kopi yang juga peneliti hukum dan kebijakan, Maryam, serta film maker dan penikmat kopi, Hamam Firdaus.

Begitulah, setelah cupping sore itu, Kopi Solok resmi dilaunching sebagai single origin yang akan menyirami dahaga pecinta dan penikmat kopi Indonesia serta dunia terhadap kopi-kopi speciality grade. Apalagi, diakui Mira, Kopi Solok telah memenuhi syarat untuk disebut sebagai speciality grade, yang secara ekonomis memilik harga jual yang tinggi dan bisa bersaing dalam lelang kopi Internasional. Mari menyeduh Kopi Solok dan bersulang untuk kejayaannya. (***)

Zonasi Sekolah Permudah Distribusi Guru
Tak Lulus SBMPTN? Saatnya Pilih Kampus Terakreditasi
Sekolah Tak Boleh Kenakan Pungutan Liar
Kementerian PUPR Sasar SMK untuk Kerjasama Sosialisasi Infrastruktur
MUSIC
STAR Radio Padang Bertabur Bintang
FILM
Transformers: Age of Extinction Libatkan Animator
TREN
Ingin Tampil Gaya, Abaikan Aturan ini
BUDAYA
Merayakan Budaya Membaca, Cerita-cerita Klasik Dib