“Tak Ada Dusta Diantara Lidah”

Lontong Stengkel “Amak Galak” di Warung Kita Jalan Gajah Mada, Gunungpangilun, Padang, tepatnya di samping MAN 2 Gunungpangilun, Kota Padang, resmi dibuka kemarin malam. Lontong dicampur stengkel atau tulang kaki sapi itu tersedia pukul 18.00-22.00 WIB. Bagi para penggemar kuliner malam di Kota Padang, Lontong Stengkel “Amak Galak” bisa jadi pilihan favorit kamu.

Dalam pembukaan kemarin malam, langsung diserbu pembeli dari berbagai kalangan. Ada mahasiswa, pelajar, pengusaha, akademisi, aktivis, wartawan, serta masyarakat umum. Semuanya “berketuntang” menikmati lontong stengkel dengan gulai cubadak tersebut. Menurut juragan Lontong Stengkel “Amak Galak”, Yanni Melko, sekitar 75 stengkel tandas pada malam pertama itu.

Sejarahnya, diungkap Yanni, lontong stengkel ini dulunya usaha rumahan. Hanya disediakan untuk sarapan di rumahnya, belakang Stasiun Kereta Api Simpang Aru. Kemudian, Yanni bertemu pemilik Sembalakon Grup, Yusrizal KW, untuk konsultasi pengembangan bisnis lontong stengkel di Kota Padang ini. Merasa tertarik dengan dunia “perlontongan” ini, keduanya join atau bekerjasama membuka gerai Lontong Stengkel “Amak Galak” di Warung Kita, di bawah bendera Sembalakon Grup.

“Kehadiran lontong stengkel ini tidak sekadar menaruhnya di gerobak kemudian dijual saja. Tapi melewati proses sesuai ilmu marketing yang berkembang sekarang, seperti diterapkan Om KW untuk lontong stengkel ini. Mulai dari pra-penjualan hingga lontong stengkel itu benar-benar ada di depan pembeli. Termasuk branding nama “Amak Galak” tersebut,” ungkap Yanni, yang akrab disapa Elok ini.

Sementara itu, tentang konsep marketing Lontong Stengkel “Amak Galak” terutama branding-nya, Yusrizal KW, mengungkapkan, dimulai dari pembentukan imej atau pikiran orang tentang lontong stengkel. Ada rasa penasaran, seperti apa benar sih lontong stengkel itu, yang tidak tahu stengkel itu apa lalu mencari tahu.

“Hampir setiap hari kita ‘bom’ pikiran orang dengan lontong stengkel ini di media sosial, seperti twitter, facebook, grup BBM, dan seterusnya. Pokoknya dalam pikiran orang itu kita tanamkan tiada hari tanpa lontong stengkel. Sehingga muncul berbagai pertanyaan dari mereka, yang muaranya, kapan dibuka?” tuturnya.

Setelah itu, lanjut Owner inioke.com tersebut, kita mencari merek atau nama yang mudah diingat dan dikenal orang. “Ada beberapa nama, kita posting di grup BBM, kemudian dilakukan voting. Dari voting tersebut, terpilih nama Lontong Stengkel Amak Galak ini,” ujar pria yang akrab disapa Om KW ini.

Begitu nama ditetapkan, promosinya pun semakin jor-joran di media sosial. Bahwa, lontong stengkel yang kamu tunggu-tunggu itu bernama “Amak Galak”, sebentar lagi akan dibuka. Beberapa akun media sosial pun menggunakan logo “Amak Galak” sebagai foto profil atau display profile-nya. Sebagai bentuk “protes” ketidaksabaran mereka menunggu kehadiran lontong stengkel ini.  

Bersamaan dengan kehadiran merek ini, kata Om KW, juga dipilih tagline, sebagai penguatan terhadap visi dan misi lontong stengkel ini. “Tak Ada Dusta Diantara Lidah” pun dipilih menjadi tagline yang akan diingat orang sambil senyum-senyum dan ingin membuktikan rasanya dengan lidah sendiri.

Sampailah lontong stengkel itu benar-benar ada dan bisa dinikmati Senin (16/9) malam. Selepas magrib para penggemar kuliner berkumpul di Warung Kita. Mereka ingin merasakan sensasi rasa lontong stengkel yang membuat lidah tidak bisa berdusta tersebut.

Nampak hadir, aktivis budaya dan media sosial, Nasrul Azwar, penyair Sondri BS bersama istrinya cerpenis Yetti AK dan anak mereka Palung Laut. Kemudian, Direktur LBH Pers, Roni Saputra bersama istrinya Rosanti, penyair Esha Tegar Putra bersama istrinya Irma. Dari kalangan akademisi, ada Edi Indrizal dan istrinya. Kalangan pengusaha, Abang Adek, Ulki Chandra, Rizet Ramawi, dan lain-lain. Selanjutnya, Heru Joni Putra dan rombongan yang datang hujan-hujan dari Kandang Padati mewakili kalangan mahasiswa, yang sebelumnya juga sudah hadir mahasiswa STKIP, UBH, STIKES dan seterusnya. Dari kalangan wartawan, ada Heldi, Yuke, dan kawan-kawang. Tak ketinggalan masyarakat umum lainnya yang mengaku mendapat info ini dari media sosial dan pembicaraan beberapa rekan mereka.

Begitulah, malam itu, semuanya mendapatkan lontong stengkel sesuai porsi masing-masing. Nasrul Azwar, dikenal dengan Mak Naih, sampai berkeringat menyedot isi stengkel tersebut. Begitu juga Sondri, Yetti, Roni, Edi Indrizal, dan penikmat lainnya. Semuanya mengakui, memang tak ada dusta diantara lidah. Di lidah mereka Lontong Stengkel “Amak Galak” rasanya ‘mak nyuss’, enak banget lo....

“Lamak raso lontong stengkelnyo,” kata Edi Indrizal, yang memiliki pengalaman mencicipi kuliner di berbagai daerah ini.

Nah, bagi yang ingin membuktikan “Tak Ada Dusta Diantara Lidah” datanglah selepas magrib ke Warung Kita di Samping MAN 2 Gunungpangilun itu. Silakan pesan Lontong Stengkel “Amak Galak” di sana.

\"\"

\"\"

\"\"

\"\"

\"\"

\"\"

\"\"

\"\"

\"\"

(Sumber foto: GRY/inioke)

Adanya Keterlambatan Pengumuman Hasil UN di SMP
Pemuda Indonesia Memperingati Hardiknas 2018, Juga Menyelenggarakan Kemah Pendidikan dan Apel Kebangsaan
Mendikbud, Muhadjir Effendy Menguatkan Hardiknas Menjadi Momentum Pendidikan dan Kebudayaan
MTsN 2 Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon Melaksanakan UNBK Dengan Modem
MUSIC
STAR Radio Padang Bertabur Bintang
FILM
Transformers: Age of Extinction Libatkan Animator
TREN
Ingin Tampil Gaya, Abaikan Aturan ini
BUDAYA
Merayakan Budaya Membaca, Cerita-cerita Klasik Dib